Selasa, 24 Desember 2013

RENUNGAN BUAT PARA SENIOR

 

(....SEBAGAI BAHAN RENUNGAN BUAT KITA…) SUNGGUH …. TIDAK MUDAH MENJADI JUNIOR NAMUN LEBIH TIDAK MUDAH LAGI MENJADI SENIOR                                                                                                         ( Sebuah kilas balik ) Saya bukan siapa siapa, dan juga bukan apa apa. Hanya seorang lelaki biasa, yang selama 42 tahun berkecimpung di dunia pegiat alam bebas. Sejak di SMA kelas 2, di umur 17 thn, tepat di tahun 1971, memutuskan untuk memasuki kelompok pendaki gunung di Cimahi. Tidak mudah untuk menjadi anggota kelompok Pecinta alam pendaki gunung saat itu. Umur organisasi yang baru genap 2 th ( berdiri sejak th 1969 ), belum ada yg cukup mampu untuk dijadikan instruktur beneran, sehingga kami melirik pada RPKAD ( sekarang Kopassus) grup 3 di Batujajar, untuk melatih kami. Jadilah saya dan teman2 seangkatan dilatih tentara elit itu, di tebing tebing citatah, hutan gn Burangrang, sampai ke barak situ lembang. Gunung hutan selama 2 minggu penuh, dan 5 hari terahir melakukan longmarch dalam kondisi survival sepenuhnya. Saat itu sudah berlalu, seiring waktu angkatan kami semakin dewasa dalam jam terbang. Gantian tugas sebagai instruktur dalam pendidikan dan pelatihan dasar                ( Diklatdas ) menjadi tanggung jawab kami sepenuhnya. Siswa siswi baru bergantian datang angkatan demi angkatan. Sebagai anggota muda di awal, dan merekapun berproses menjadi dewasa dalam pengembaraan maupun operasi-operasi SAR yang kami lakukan. Sejak awal, perintah komando kami bukan lagi jenis kalimat perintah seperti “tuan tuan push up 2 seri” (1 seri 10 kali), tapi “tuan-tuan ikuti saya !”, instruktur mengambil posisi lalu push-up 20 kali bersama sama dengan siswa. Begitu pula saat senam para, tangan kesamping lalu kipas-kipaskan spt sayap burung keatas kebawah sebanyak 1000 kali. Senam kipam didalam air selama 30 menit, merayap, lari pagi, apapun, kata komandonya sama “tuan-tuan ikuti saya !”. Artinya bukan hanya siswa, namun instruktur lah yg harus selalu memberi contoh dan keteladanan. Saat siswa terlambat masuk kelas, instruktur bersama siswa yg telat push up 20 kali. Jika kemudian muncul lagi siswa lain yg telat, sama dihukum bersama push up 20 kali, jika muncul yg ketiga, keempat, dst. Setiap siswa yg telat hanya push up 20 kali, namun instruktur bisa push up 40 sampai 100 kali membarengi mereka. Ketika kami melatih free-climbing di tebing 48 m di citatah. Di jaman itu artificial climbing belum populer karena terbatasnya sarana. Para siswa bergelayutan di tebing, semua tegang berdebar, namun yg paling tegang justru sang instruktur. Pernah pada sebuah angkatan, saat siswa masih di tebing, hujan tiba tiba turun, bersukur tak terjadi kecelakaan apapun. Saat latihan ini selesai wajah yang paling lega adalah sang instruktur. Para siswa lulus dari pendidikan dasar, dan dilanjutkan pada tugas pengembaraan, untuk mendapatkan nomor induk anggota. Mereka dilepas dari sekretariat untuk memulai perjalanan yang telah dirancang jadwalnya. Hari demi hari menunggu berita dari para junior ini. Apakah mereka selamat ?, apakah mereka menghadapi hambatan diperjalanan ?, apakah mereka tersesat saat pulang atau turun gunung ?. Waktu itu komunikasi belum seperti sekarang, bahkan telp rumah pun masih merupakan kemewahan. Maka penantian itu betul betul menguras mental dan emosi. Sering sekelebat muncul pikiran buruk, jangan jangan para junior ini tersesat di perjalanan dan masuk ke lembah. Lalu kehabisan makanan, sehingga terpaksa survival. Namun jika mereka dalam kondisi basah, maka dengan mudah hipotermia menyergap mereka. Jika gigilan mereka hilang, lalu tertidur…. Habislah sudah, mereka akan kembali terbungkus dalam kantung-kantung mayat. Jika situasi yang terburuk itu terjadi, kalimat tanya yang pertama kali keluar adalah “ apakah aku telah cukup melatih dan mendidik mereka ?”. Pertanyaan yang terus menerus menggedor di kepala, bertalu talu menyakitkan. Pernahkah rasa kasihanku saat latihan membuat mereka lalai dalam belajar dan berlatih ?. Apakah metodaku terlampau lembek, sehingga mereka menganggap enteng pelajaran tentang cara bertahan hidup ?. Jika “ya” lalu bagaimana pertanggung-jawabanku dalam pengadilan di akhirat kelak ?. Mereka bisa terbunuh di alam sana, bukan karena kesalahan mereka, tapi akibat rasa “kasihan”. Rasa kasihan sang instruktur yang tidak proporsionalah pembunuhnya. Menolak berkeringat saat berlatih, namun menyebabkan berdarah-darah dalam pengembaraan sebenarnya. Apalagi berujung pada tragedi kematian. Memang kematian merupakan takdir Illahiah, Namun tanyalah pada setiap instruktur, sebuah pertanyaan yang paling esensiel, bagaimana jika ada junior yang mati saat pengembaraan, hanya karena mereka tidak cukup keras dalam berlatih ?. Hanya karena sang instruktur takut di cap melakukan “penganiayaan” pada siswa. Padahal tahu persis bahaya dan resiko yang akan dihadapi sang junior, saat melakukan pengembaraan pertama dan pengembaraan-pengembaraan berikutnya di alam bebas. Ketika para junior kembali dari pengembaraan, saat sidang usai dilakukan, saat syal dan nomor induk anggota diberikan. Mata junior dan sang instruktur berkaca kaca, seraya berpelukan dalam tangis bahagia. Selamat datang adik-adikku. Sang Junior paham, “penganiayaan” yang dialaminya dulu, membuat mereka menjadi tangguh dan siaga. Membuat mereka paham, bahwa berkeringat bahkan kadang berdarah-darah saat menjadi siswa, menjadi bekal berguna ketika berhadapan dengan tantangan alam yang sesungguhnya. Bahwa kerasnya hardikan, pedasnya tamparan, ribuan push up, sit up, squat jump, merupakan bukti “kasih”, agar dalam setiap pengembaraan, mereka masih mampu kembali pulang ke keluarganya masing. ….. Agar mereka pulang tidak dalam bungkusan kantung mayat..!!!. Para Junior perlahan tumbuh, berganti menjadi senior dan instruktur instruktur baru untuk angkatan adik adik mereka. Perasaan ketegangan, kegalauan yang pernah dirasakan oleh para senior dulu, kini juga mereka rasakan. Betapa berat memikul arti “pertanggung-jawaban”. Lantas kesadaran itu muncul. Dulu mereka berfikir betapa sulitnya untuk menjadi junior, yang habis disuruh suruh dan di bentak bentak. Namun mereka kini maphum, betapa lebih tidak mudah lagi menjadi seorang senior dan instruktur. Hanya karena seorang instruktur harus mempertanggung-jawabkan semuanya di yaumil akhir, tepat didepan sang Khalik kelak. Apakah yang diajarkannya pada para siswa, akan membawa berkah manfaat atau bahkan sebuah musibah ?. Sebuah musibah, hanya karena sang instruktur mengumbar rasa kasihan yang tidak pada tempatnya, sehingga berujung pada kedukaan ….. Dan juga mudah mudahan bukan ketika para instruktur mulai melupakan, bahwa perintah komando yang paling mujarab adalah …. Tuan tuan , ikuti saya ! Yat lessie (Jana Buana –Cimahi Jawa Barat) Percakapan Obrolan Berakhir

Jumat, 29 November 2013

Kenapa Naik Gunung 

Oleh Saepul Kamal pada 28 Agustus 2012 pukul 16:03

Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami, Kami katakan bahwa :Kami adalah manusia – manusia yang tidak percaya pada slogan Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan – slogan Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat Karena itu Kami naik gunung.

Analisis pernyataan Soe Hok Gie
1. Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami
  • Kata Kami, menunjukkan Soe Hok Gie beserta teman – teman pendakiannya ke gunung Slamet (1969).
  • Kata Kami, merujuk pada Mahasiswa Pencinta Alam (MPA) Indonesia; karena Soe Hok Gie juga adalah Mahasiswa Pencinta Alam (MPA). Cobalah anda baca pernyataan diatas dengan mengubah kata Kami dengan kata Mahasiswa Pencinta Alam (MPA) Indonesia.
  • Kata Jelaskan, menekankan bahwa MPA harus “menyampaikan sesuatu, jangan diam”, bicara kepada mereka, masyarakat, bangsa dan Negara tentang apa dan siapa MPA Indonesia?
  • Kata apa sebenarnya, menegaskan tentang sesuatu (apa) dan ada banyak hal yang benar tetapi hanya satu yang benar (sebenarnya); Beragam pemikiran komunitas MPA Indonesia tetapi hanya satu yang benar.
  • Kata Tujuan, menegaskan bahwa kehadiran MPA Indonesia memiliki cita – cita yang luhur dan hari esok yang jelas bagi masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia.
  • Kata Kami, dua kali disebutkan pertanda ada “semacam kemarahan” yang mendalam; Perlu diketahui bahwa sebelum Soe Hok Gie mendaki ke gunung Slamet, beliau sempat ditanya dengan nada sinis “untuk apa beliau mendaki gunung” .
2. Kami adalah manusia – manusia yang tidak percaya pada slogan
  • Kata Kami, menunjukkan Soe Hok Gie beserta teman – teman pendakiannya ke gunung Slamet (1969).
  • Kata Kami, merujuk pada MPA Indonesia.
  • Kata adalah, menekankan adanya batasan (definisi) tentang jati diri MPA Indonesia?
  • Kata Manusia – Manusia, dituliskan lebih dari satu kali (ditulis sebanyak dua kali) mengandung kemarahan / penegasan; pertama, menegaskan bahwa MPA Indonesia itu adalah manusia (bukan Batu, bukan Pepohonan, bukan binatang dan bukan Sekedar Bentuk Manusia); MPA Indonesia itu adalah Manusia yang sesungguhnya Manusia; Manusia Ciptaan Allah SWT yang memiliki kesadaran tentang fungsi manusia, yakni memberikan manfaat bagi kehidupan di muka bumi. Kedua, jumlah MPA Indonesia sangat banyak dan semuanya adalah Manusia.
  • Kata Yang tidak percaya pada, menyampaikan bahwa MPA Indonesia merupakan komunitas yang berpikir (memiliki akal pikiran); sehingga dapat membedakan hal yang patut dipercaya (baik) dan hal yang tidak patut dipercaya (buruk).
  • Kata Slogan, secara vulgar berarti hanya bicara saja; Menjelaskan tentang pemerintahan pada saat itu (sifat manusia) yang tidak konsisten atau tidak sesuai antara ucapan dan tindakan.
3. kata Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan – slogan
  • Kata Patriotisme, menjelaskan tentang jiwa kepahlawanan; Didalam diri manusia terkandung sifat dasar kepahlawanan, yakni sifat saling membantu dalam urusan kebaikan.
  • Kata Tidak mungkin tumbuh dari, menjelaskan bahwa sesuatu akan tumbuh (misalnya bibit pohon berkualitas) jika berada di lahan (sistem) yang subur (baik, kondusif) serta memperoleh perawatan (pupuk dan air) yang tepat. Tanpa itu semua maka tidak akan mungkin tumbuh pohon patriotisme.
  • Kata Hipokrisi dan slogan – slogan, kebohongan (hipokrisi) dan inkonsistensi (slogan) merupakan sesuatu yang kontra produktif.
4. kata Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya
  • Kata diatas menjelaskan bahwa kekuatan seseorang dalam mencintai sesuatu (objek) sangat tergantung pada kekuatan pengenalan terhadap objek tersebut. Tetapi, seseorang tidak akan pernah memiliki kekuatan pengenalan yang baik jika seseorang itu tidak mengenal dirinya secara baik.
  • Seseorang dapat dikatakan sehat jika sigma quotient dirinya Nol. (PQ + IQ + EQ + SQ = 0).
  • Dalam konteksnya menggambarkan situasi bangsa (pemerintahan Indonesia) pada saat itu. Banyak birokrat yang tidak dapat melihat, mendengar dan merasakan penderitaan sebagian besar rakyat Indonesia dan banyak birokrat tidak mengenal Tanah Air Indonesia. Apakah MPA Indonesia akan seperti itu ?
5. Kata Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat
  • Kata diatas merupakan pengembangan dari kata sebelumnya.
  • Dalam konteksnya Soe Hok Gie memberikan advis dan solusi.
  • Kata diatas menjelaskan mengenal Indonesia (sebenarnya telah inklud dengan rakyatnya; tetapi Soe Hok Gie ingin menekankan pada aspek rakyatnya) harus lebih diutamakan rakyatnya; kata secara dekat, lebih kearah jiwa rakyat Indonesia; sehingga sikap mencintai kepada Tanah Air dapat tumbuh (dan bukannya sikap mencintai diri sendiri atau kelompok sendiri) Perlu untuk direnungi bahwa situasi Indonesia saat ini, sulit menemukan orang Indonesia.
6. Kata Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat
  • Kata Pertumbuhan menunjukkan sesuatu yang berproses (belum final) hingga tiba saatnya; Pertumbuhan berarti tidak mati dan atau tidak juga pengkerdilan.
  • Kata Jiwa yang sehat, lebih mengarah kepada aspek IQ, EQ dan SQ yang pintar.
  • Kata Pemuda, mengisyaratkan bukan kanak – kanak (yang suka merengek jika keinginannya tidak dipenuhi); Pemuda bukan kaum jompo yang tidak dapat berbuat apa – apa; Pemuda adalah kaum yang kuat dalam suatu perubahan; Menguatkan yang lemah, memperbaiki kekeliruan orang – orang terdahulu.
  • kata Harus berarti, menunjukkan sesuatu yang sama pentingnya.
  • Kata Fisik yang sehat, menjelaskan bahwa tidak cukup hanya IQ, EQ dan SQ yang pintar; tetapi variabel fisik yang pintar (Smart Physical Quotient) tidak boleh diabaikan.
  • Sebgai pelengkap, seseorang dapat dikatakan cerdas jika seluruh Quotient variable – nya pintar; dan disebut seseorang dikatakan sehat jika sigma quotient varabel – nya sama dengan nol (balance).
7. Kata Karena itu Kami naik gunung
  • Kata Karena, menunjukkan upaya jawaban terhadap akar masalah.
  • Kata Naik Gunung (kini populer dengan istilah mendaki gunung), sampai di titik ini ada banyak pertanyaan kontemplatif, yakni : Mengapa ke gunung ? mengapa bukan ke gua atau ke laut ? Apakah terkait dengan kemampuan teknis yang dimiliki Soe Hok Gie ? Apakah jika Soe Hok Gie memiliki adventure Rock Climbing Skill maka ia akan menulis karena itu kami “memanjat tebing ? Saya yakin, Soe Hok Gie akan tetap memilih Gunung dan tetap menggunakan kata Naik (bukan mendaki). mengapa ? :a. Kata Naik lebih bersifat universal dan familiar.b. Kata Gunung, memiliki sejarah yang panjang dan sangat dekat dengan kehidupan manusia (selain gua dan laut).
Gunung memberikan signal dari suatu kedudukan yang tinggi dan mulia tetapi dengan hati yang rendah.
  • mengapa kisah perjalanan Rasulullah Muhammad SAW berlangsung dari bukit (gunung) Jabal Nur ke Gua Hira ? keterkaitannya pada mengapa Gua (cave) tidak termasuk dalam klasifikasi Mountaineering ?
  • Dan pada saat kiamat nanti, Allah SWT mengangkat gunung – gunung dan mesjid- mesjid (bukan bangunan mesjid)
  • Masih banyak nilai gunung lainnya, dan dari titik ketinggian gunung Soe Hok Gie dapat membaca banyak peristiwa.